NASKAH DERAMA: "LONTAR-LONTAR"
Di ambil dalam sebuah buku yang berjudul Ahangkara,
yang dikarang oleh Makinudin Samin.
Lalu di susun kembali oleh Sandi Dimaksum, S.Pd.
Cerita
ini mengisahkankan suatu peristiwa besar pada jaman Majapahit dan Demak, perang
dan kemelaratan menggandrungi setiap jiwa manusia pada masanya. Rintihan dan
tangisan terdengar melengking, namun para alit-alit kerajaan tidak pernah ingin
mendengar, hanya keserakhan dan perdebatan agama yang mereka urusi. Sedangkan
rakyat mati sia-sia tidak pernah tahu apa persoalannya, sehingga terkuburlah
mereka…. Dan inilah sebuah cerita yang berjudul Lontar-Lontar…..
Adegan
I
Tarian perang
Adegan
II
Di tengah-tengah peperangan banyak
muslihat-muslihat licik hanya untuk mengejar keserakahan. Seperti halnya
santri-santri Ki Gede Basir yang sedang mengadakan pengajian di musalah dekat
perbatasan wilayah Demak.
Selesai pengajian terlihat Iksah
pemuda Ambulu mendekati Ki Gede Basir yang tengah berzikir.
Ki
Gede Basir: (masih dalam keadaan berzikir) “apa yang ingin kamu tanyakan”
Iksah: (duduk disamping Ki Gede dan
menundukan kepala) “aku masih tidak mengerti maksud Ki Gede mengenai perang
Demak”
Ki Gede Basir: (menghentikan
zikirnya dan menghelus kepala Iksah) “perang demak di brang wetan seharusnya
bertujuan memusnahkan ajaran siwa sogata, namun para alit-alit demak begitu
serakah”
Iksah: “maaf ki, bukannya perang
Demak sendiri dipimpin sunan kudus sebagai salah satu dewan wali”
Ki Gede Basir: “yah yah yah”
(mengangguk-anggukan kepala sambil menghelus janggutnya) “manusia kalau sudah
soal tahta itu sama bukan rakyat atau wali”
Iksah: “maksudnya ki”
Ki Gede Basir: “selama
Lontar-Lontar boleh diajarkan ditanah ini, sama saja menodai ajaran Rasul…
justru para wali melarang prajurit memusnahkan lontar-lontar dan menyerang
candi-candi, kalau seperti ini perang demak sama seperti dulu hanya untuk
kekuasaan”
Iksah: (memanggut-manggutkan
kepala) “jika seperti itu, biarkan saya yang menghapus lontar-lontar dan
cand-candi demi kesucian ajaran Rasul” (teriak Iksah lantang sambil berdiri dan
mengepal tanganya.
Adegan II
Puputan
Dahanapura masih berlangsung dengan kengerian dan keganasanya. pasukan
majapahit ditarik mundur manakala pasukan demak membobol pertahanan majapahit. Sampai
pada akhirnya matahari condong kebarat dan terdengar kabar Rekrayan Demung
gugur dimedan peperangan tepat dipangkuan Sunan Kudus. Meninggalnya Rakrayan
Demung perang Majapahir dan Demak berhenti, pada hari itu pula kerjaan
Majapahir runtuh. Pemerenitahan mulai dipegang demak masih dengan misi yang
sama menyatukan Nusantara.
Namun perang ini masih belum selesai
bagi orang-orang Ambulu yang mendapat ancaman dari Iksah pemuda Ambulu, yang
menyuruh Ki Wamana untuk memusnahkan lontar-lontar dan candi Ambulu. Ancaman
tersebut membuat Ki Wamana sebagai pemangku candi Ambulu bersedih, tepat di
depan teras candi Ki Wamana tengah merenung dan tiba-tiba dating sekelompok
warga bersama Ki Ngimron. Belum juga mereka berbincang datang Iksah bersama
prajurit susupan demak.
Iksah: “Ki Wamana perang sudah
selesai, sudah saatnya ajaran-ajaran siwa sogata dimusnahkan….. serahkan
Lontar-Lontar pada ku ki”
Ki Ngimron: “untuk apa
Lontar-Lontar itu Iksah”
Iksah: “Ki Ngimron sebaiknya diam,
bukan kah Ki Ngimron seroang pengaut ajaran Rasul”
Ki Ngimron: “iya, saya penganut
ajaran Rasul dan menjalankan apa yang Rasul perintahkan… seperti hal tidak
merusak temat peribadatan ajaran lain”
Iksah: “hadis mana yang Ki Ngimron
ucapkan itu? Ajaran Rasul akan ternoda selama Lontar-Lontar masih diajarkan
ditanah Ambulu ini” (bentak Iksah menatap Ki Ngimron sedangkan Ki Ngimron hanya
menggelng-gelengkan kepala).
Ki Wamana: “anak ku sadarlah”
Iksah: “aku sudah sadar Ki Wamana,
kau yang harusnya sadar Ki”
(mendengar
kata-kata Iksah membuat salah-satu raga geram dan melempar tombak ke arah Iksah
sehingga Iksah meninggal, kedua prajurit langsung membawa tubuh Iksah)
Prajurit:
“rakyat Ambulu perbuatan mu ini akan ku laporkan pada Demak” (ancamnya Langsung
berlalu”
Adegan
III
Takut
dengan ancaman prajurit Ki Wamana dan Ki Ngimron berunding agar candi Ambulu
dan Lontar-Lontar tidak dirusak pasukan-pasukan Ki Gede Basir.
Ki
Ngimron: “apa yang akan Ki Wamana Lakukan sekarang?”
Ki
Wamana: “untuk anak cucuk kelak meski mereka bukan penganut siwa sogata, maka
akan ku kubur candi Ambulu beserta Lontar-Lontarnya”
Sejak
hari itu Lontar-Lontar dan banyak Candi-candi yang dikubur agar tidak dirusak
oleh mereka-mereka yang salah mengartikan soal kesempurnaan beragama dan
menghilangkan arti toleransi.
Mungkin hanya begitu singkat kisah yang mengenai Lontar-Lontar dan sejarah candi-candi yang terkubur sejak Majapahir runtuh. Kurang lebihnya mohon maaf jika banyak hal yang terpotong atau kurang sesuai karena cerita ini semata-mata hanya sebatas hiburan.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar