Langsung ke konten utama

EDAN “Melarate Ning Pelabuhan, Angger Sugine Ning Langgenan”

 

 

 

 

EDAN “Melarate Ning Pelabuhan, Angger Sugine Ning Langgenan

S-Dimaksum1

1Penulis: Ds. Kiajaran Kulon, Blok. Pelabuhan, Rt/Rw. 14/04, Kec. Lohbener-Indramayu

 

Cerita ini berasal dari masa lalu yang menceritakan kemelaratan (kemiskinan) dan kekayaan yang sudah membuat kegilaan di dalam jiwa setiap anak manusia. Perbedaan diantara kalangan membuat mereka tidak lagi peduli dengan sesama, tidak lagi peduli dengan cinta yang tengah menggandrungi ke dua anak manusia. Inilah EDAN “melarate ning Pelabuhan, angger sugine ning Langgenan”.

            Kutukan Jaka Ulam pada masa lalu masih terngiang ditelinga masyarakat Pelabuhan terutama ditelinga pemuda-pemuda desa Pelabuhan yang mersakan kemlaratan sejak ia dilahirkan di bumi Pelabuhan ini. Sering sekali mereka mengadu pada sesamanya akan kemiskinan yang menggandrungi dirinya bahkan bertanya-tanya mengapa mereka harus dikutuk menjadi melarat, apa salahnya.

            “Kang apa salahnya kita sehingga leluhur mengutuk kita semua menjadi melarat seperti ini” kurang lebih begitu kata salah seorang pemuda mengungkapkan kekesalan dalam hatinya.

            Ia hati siapa yang tidak kesal ketika mendapat kutukan yang aneh “melarate ning Pelabuhan, angger sugine ning Langgenan (miskinnya di Pelabuhan, tetap yang kaya di Langgenan)” seperti itulah bunyi sumpah atau kutukan Jaka Ulam pada masa lalu karena dia tidak bisa mepersunting seorang Ronggeng asal desa Lelea.

            Kutukan tersebut masih melekat pada masa ini yang membuat resah masyarakat desa Pelabuhan, kalau dilihat-lihat masyarakat desa Pelabuhan terkenal orang-orang yang rajin dalam bekerja berbeda dengan orang-orang desa Langgenan kerap bersantai-santai tidak susah-susah namun memiliki kekayaan yang melimpah dibandingkan dengan masyarakat Pelabuhan. Dari sinilah kerap kali masyarakat Langgenan menjadikan orang-orang Pelabuhan sebagai pembantu dan selalu sewenang-wenang pada masyarakat Pelabuhan yang melarat bahakan sampai soal Cinta pun orang-orang Langgenan membatasinya, seperti Kang Jalil tidak berdaya membeli cinta wanita Langgenan atas semua kemelaratan yang ia miliki.

            Tahun 1980 suasana desa Pelabuhan yang masih asri akan pohon-pohon yang rindang dan tentu saja masih dengan kemelaratan yang menggandrungi masyarakatnya. Sore itu terdengar jeritan wanita dan terkadang menangis tersedu-sedu, semua warga desa berdatangan mengerumuni wanita separuh baya yang sedari tadi menangis dan menjerit-jerit dibawah pohon Kendal tidak jauh dari peswahan yang sudah dipanen terlihat jelas dari tanahnya yang retak-retak terkdang dari retakan tersebut bisa ditemukan tahi manusia.

            “Nang Jalil kamu kenapa Nang?” kata wanita tersebut lalu menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh lelaki yang tidak sadarkan diri.

            Wajah pucat dengan bercak darah dibibirnya dan terdapat sembab dipelipis matanya seperti habis dipukul. Bajunya lusuh dan robek dibagian lehernya masih dengan darah menempel tepat dibagian dadanya. Melihat hal tersebut mereka yang melihat hanya dapat menutup mulut merasa heran dan kaget.

Meski sesekali terdengar bisikan-bisikan tengah membicarakan Kang Jalil yang sudah tidak berdaya bahakan ada diantara mereka menuduh orang Langgenan yang menyebabakan hal tersebut kepada Kang Jalil, tuduhan semacam itu bukan tidak beralasan namun justru memiliki alasan yang kuat, akan peristiwa yang dialam Kang Jalil lelaki desa Pelabuhan dengan kemelaratannya.

“tidak salah lagi Kang ini perbuatannya orang Langgenan, atau bisa jadi suruhan Kaji Teming karena anaknya si Raniti pacaran sama Kang Jalil” kurang lebih begitu tuduhan yang terlontar.

Manakala sawah tengah panen banyak orang-orang yang berlarian merbutkan garapan yang akan mereka arit tidak ketinggalan pula dengan Kang Jalil berlari begiti semangat menerobos deretan padi dan tanah retak yang bisa saja membuat kakinya terbelosok (terplosok) kedalam retakan tanah tersebut, namun bagi Kang Jalil hal semacam ini tidak membuatnya menyerah apalagi manakala Raniti melihatnya dengan senyum menawan dibibirnya.

Seperti biasanya Raniti selalu ikiut ayahnya Bapak Kaji Teming manakala sawahnya yang berada di desa Pelabuhan panen, bagi Raniti begitu menyenangkan melihat orang-orang berlari merebutkan garapan yang siap untuk di arit. Raniti selain cantik dan menggoda siapa saja yang melihat apalagi ketika wanita itu mengedipkan mata, andeng-andeng dibawah matanya membuat jantung lelaki bergetar, bukan hanya kecantikannya Raniti juga terkenal akan kekayaan ayahnya Bapak Kaji Teming yang memiliki sawah berhektar-hektar di desa Pelabuhan.

Meski banyak lelaki yang menaksirnya namun Raniti hanya cinta pada Kang Jalil bukan karena rupa Kang Jalil namun karena kebaikan dan keramahan Kang Jalil-lah yang membuat Raniti jatuh hati. Ia kerap kali Kang Jalil mengantar Raniti pulang ke Langgenan dengan menaiki sepeda pinjaman namun hal tersebut membuatnya bahagia dan merasa nyaman. Bahkan ketika panen selsai di arit Raniti kerap kali mencuri waktu berdua dengan Kang Jalil misalnya seperti saat ini Raniti dan Kang Jalil tengah berdua-duaan dibawah pohon Kendal, sesekali Kang Jalil merayu Raniti sehingga membuat rona merah di pipi wanita berambut panjang.

Nok wong ayu (wanita cantik), Kakang bahagia bisa berdua dengan mu memandang luasnya bentangan sawah yang tengah dipanen ini Nok” kata Kang Jalil dengan menggerakan kedua tangannya.

“sama Kang Raniti juga senang bisa berdua dengan Kakang sing tek puja (yang dipuja)…. Hehehe” Kata Raniti diakhiri dengan tawanya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kang Jalil.

“apa senok menerima Kakang yang miskin ini?” kata Kang Jalil bertanya.

Raniti semakin manja dipundak Kang Jalil “Reniti tidak melihat harta Kang” katanya lembut.

Mendengar hal tersebut membuat Kang Jalil semakin berbangga terlihat jelas dari senyumnya dan tatapan matanya yang memandang Raniti dengan cinta. Sesekali Kang Jalil membelai rembut raniti yang panjang dan tergerai. Oh! Kang Jalil benar-benar beruntung bisa menatap dan menyentuh rambut wanita ayu pujaan laki-laki setiap desa.

Semua yang bahagia tentunya tidak akan selamanya bahagia begitu pula dengan Kang Jalil dan Raniti yang tengah memaduh kasih. Entah tahu dari mana Bapak Kaji Teming akan tingkah anaknya yang tengah berdua-duaan dengan lelaki melarat desa Pelabuhan. Ia napas Kaji Teming naik turun menahan gejolak amarah dalam hatinya menyaksikan putri semata wayang berdua-duaan dengan pemuda desa Pelabuhan yang terkenal melarat.

“Plak…” suara tangan Kaji Teming yang menampar Kang Jalil sampai tersungkur.

Raniti segera ditarik tangannya agar menjauhi Kang Jalil yang masih tersungkur ditanah.

“Bapak, kenapa menampar Kang Jalil Pak” kata Raniti bertanya sambil menengadakan kepalanya menatap ayahnya yang tinggi besar.

wis meneng (sudah diam)” kata Kaji Teming melototkan matanya “Kirik (anjing), kamu berani-beraninya berpacaran dengan anak saya…. Emang kamu punya apa untuk melamar anak saya Jalil?” hardik Kaji Teming dengan suara lantangnya, sehingga membuat mereka yang tengah memanen padi berkumpul melihat Kang Jalil yang tengah dimarahi Kaji Teming.

Kang Jalil mengusap mukanya lalu menatap Kaji Teming yang masih berdiri tegak “aku punya cinta untuk Raniti Bapak Kaji”

Gobolg (bodoh), jaman sekarang cinta itu sudah tidak ada harganya lagi…. tidak bisa kamu jual cinta mu itu Jalil”

“tapi Bapak Kaji, kita seneng ning Raniti (aku suka sama Raniti)” kata Jalil memelas lalu memegang kaki Kaji Teming.

“ah, bocah Edan (anak gila)…. Kamu boleh suka sama Raniti kalau kamu orang kaya Jalil” kata Bapak Kaji Teming sambil menendang Kang Jalil sampai tersungkur kembali.

Kaji Teming menarik tangan Raniti agar segera pergi meninggalkan Kang Jalil yang berada ditengah-tengah kerumunan. “Kang Jalil…Kang….” Teriak Raniti memanggil-manggil Kang Jalil yang tidak berdaya atas cintanya.

Melihat hal itu banyak gunjingan-gunjingan yang terdengar dari balik kerumunan masyarakat, ada yang bersimpati akan nasib Kang Jalil namun adapula yang mengejek Kang Jalil kalu lelaki melarat tersebut tidak tahu diri karena sudah berani-beraninya mencintai wanita cantik anak Kaji Teming yang kaya raya di Langgenan.

Tiga hari berlalu setelah pristiwa yang menimpah Kang Jalil, dan tiga hari itu pula Kang Jalil selalu melamun memikirkan Raniti sang pujaan hatinya. Tiap sore Kang Jalil selalu duduk diatas amben yang terbuat dari bambu, terkadang ia tersenyum terkadang pula ia murung entah kenapa namun banyak yang bilang jika Kang Jalil tengah gila, setiap kali ibunya menyuruh Kang Jalil masuk rumah ia malah marah-marah tidak karuan. Sampai suatu ketika Wanto anak Bapak Lurah datang mengunjungi rumah Kang Jalil dengan membawa sepucuk surat.

“Lil, nyengir-nyengir bae (senyum-senyum saja)…. Kenapa?” kata Wanto menyapa.

Kang Jalil tidak menjawab perkataan Wanto malah ia tersenyum-senyum tidak jelas terkadang memiringkan kepalanya, oh! Kang Jalil benar-benar gila akan cinta Raniti yang tidak mendapatkan restu dari Bapak Kaji Teming.

“benar-benar edan (gila) kamu Lil” gerutu Wanto pelan “ini ada surat dari Raniti” kata Wanto sambil menyerahkan kertas puti tanpa amplop.

Mendengar nama Raniti lelaki muda itu langsung sigap menerima surat dari tangan Wanto lalu menciumnya surat itu dan ia dekap di dadanya.

“kalau Raniti saja baru mengeriti” gerutu Wanto kesal “yawis kita balik Lil (yasudah saya pulang Lil)” lanjut kata Wanto pergi meninggalkan Kang Jalil yang masih tersenyum-senyum mendekap suart dari Raniti.

Melihat Wanto yang sudah jauh Kang Jalil mulai membuka suratnya secara perlahan terkadang ia tutup kembali surat itu dengan cekikik tawanya entah kenapa, sampai pada akhirnya surat itu terbuka sepenuhnya terlihat tulisan di dalam surat tersebut seperti ini bunyinya.

“Kang maaf, tidak ada maksud Raniti menyakiti Kakang apalagi menghiyanati Kakang. Hanya saja Kang….. Raniti tidak mampu menolak permintaan Bapak agar Raniti menikah dengan anak Kaji Kartam asal Lelea. Kata guru ngaji Raniti bilang dosa hukumnya melawan orang tua Kang dari situlah Raniti mengiyakan permintaan Bapak Kang….. sekali lagi maaf Kang” kurang lebih begitulah isi surat di dalamnya.

“ahhhhh…. Raniti kakang suka sama kamu Raniti” teriak Kang jalil membuat orang-orang keluar dari dalam rumah termasuk ibunya.

Nang kenpa Nang?” kata Ibunya langsung memeluk Kang Jalil.

“Raniti arep kawin Mak (Raniti mau menikah Bu)” kata Kang Jalil lalu menangis sejadi-jadinya “Ranitiiiiii….. Kakang cinta Raniti, bukannya kamu bilang kalau kamu cinta sama Kakang Raniti”

“yang sabar Nang sabar” kata Ibunya berusaha menenangkan Kang Jalil yang semakin tidak waras.

Banyak orang-orang yang berkerumun di depan rumah Kang Jalil melihat gelagat lelaki tersebut yang semakin edan akan cintanya yang tidak direstui oleh Kaji Teming. Bahakan diantara mereka benyak yang mencelah Kang Jalil akan kegilaannya ada pula yang menjadika suatu pelajaran bagi anak-anaknya agar selalu mawas diri tidak boleh orang Pelabuhan yang melarat mencintai wanita asal Langgenan yang terkenal sugih.

Dua hari berlalu acara pernikahan Raniti digelar dengan meriah terlihat dari hiburan yang ditanggap Bapak Kaji Teming suatu hiburan yang mahal dan jarang sekali orang menanggapnya, ia hiburan tersebut Sandiwara (ketoprak) yang sedang santer-santernya dikalangan masyarakat menyebut-nyebut nama tanggapan tersebut. Dua mempelai, wanita dan peria terlihat cantik dan tampan tengah duduk diatas kursi merah dengan hiasan bunga-bunga disampingnya.

Ketika suara gong dipukul terdengar alat-alat musik lain saling bersahutan menjadi suatu irama yang merdu dan enak di dengar. Namun tiba-tiba datang lelaki berambut panjang awut-awutan membawa sebilai golok ditangan yang sesekali ia acung-acungkan dan berteriak-teriak.

“Ranitiii… aku cinta kamu Ranti, marih kita menika sayang ku, jika Kaji Teming melarang biar aku bunuh sayang” teriak lelaki tersebut menendang kursi-kursi yang berjejer rapi “kamu lihat goloknya kan sayang…. ini sudah aku siapkan untuk membunuh Kaji Teming Tahi, sayang” lanjut kata Kang Jalil masih mengacung-acungkan goloknya.

Hal tersebut membuat para undangan ketakutan, bahakan ada beberapa perempuan berlari menyembunyikan Raniti dan mempelai peria meski Raniti berteriak-teriak memanggil nama Kang Jalil.

wong edan (orang gila)” kata Kaji Teming melolos bambu panjang.

“oh..oh… Kaji Teming, serahkan Raniti pada ku Wa Kaji” teriak Jalil sambil melempar kursih ke arah Kaji Teming.

“Brakk…” suara papan menghantam tubuh Kang Jalil dari belakang.

Rupanya Casmana keponakan Kaji Teming yang memukul Kang Jalil sampai tersungkur sehingga golok yang ia bawa menembus dadanya. Melihat hal tersebut Kaji Teming langsung melayangkan tendangan ke arah wajah Kang Jalil sampai matanya sembab. Tidak sampai situ saja Kang Jalil dikeroyok beberapa orang sehingga wajahnya sembab ke ungu-unguan.

“cukup Pak cukup” kata Raniti sambil menangis melihat Kang Jalil kekasihnya dihajar ramai-ramai oleh saudara-saudaranya sendiri tepat di hari pernikahannya.

Nok sudah kamu diam saja” kata wanita tua berusaha menenangkan Raniti.

Suara musik gamelan masih ditabuh meski suasana hajatan tengah kacau tidak karuan. Ia Kang Jalil memang tengah berada dilakon Sandiwara sesungguhnya dengan atas nama cinta ia bawa jauh-jauh dari Pelabuhan. Ketika suara gamelan berhenti mereka yang mengeroyok Kang Jalil juga berhenti, melihat tubuh Kang Jalil yang penuh darah dan tidak sadarkan diri, empat orang membawa Kang Jalil keluar desa Langgenan dengan gerobag pasir. Tepat di dekat pohon Kendal Kang Jalil ditinggalkan dengan kondisi yang mengenaskan, tubuhnya meringkuk matanya sebab banjunya sobek dengan darah yang masih keluar dari dadanya.

  Manakala Ibunya mencari Kang Jalil yang ia anggap kabur dari rumah dan takut melukai warga desa ketika Kang Jalil sedang kumat akan kegilaannya, namun harapan menemukan Kang Jalil dengan kedaan baik-baik saja malah ia tidak sengaja menemukan Kang Jalil yang meringkuk tidak sadarkan diri.

“Nang Jalil kamu kenapa Nang?” teriak wanita tersebut lalu menangsi tersedu-sedu.

Mendengar teriakan dan tangisan tiba-tiba saja bermunculan orang-orang desa, ada yang membawa anak, ada yang membawa arit bahkan ada yang hanya mengenakan sarung saja. Melihat kondisi Kang Jalil yang mengenaskan semua masyarakat geger menimbulkan tuduhan-tuduhan yang mengarah ke orang-orang Langgenan terutama Kaji Teming yang tengah melangsungkan pernikhan anaknya, namun tidak sedikit pula mereka menolak hal tersebut sehingga timbul perdebatan dan gossip murahan di desa Pelabuhan. [ ].

*SELESAI*

Komentar