Langsung ke konten utama

BERBURU IKAN “Bangsa Penawungan”

 

 

 

BERBURU IKAN “Bangsa Penawungan”

S-Dimaksum1

1Penulis: Dari Desa Kiajaran Kulon, Blok Pelabuhan, Kec Lohbener-IM

Cerita ini berawal dari kisah almarhum guru ngaji saya tentang perjalanan para pemburu ikan ditengah sawah yang tengah geresang, terdengar aneh tapi itu benar adanya. Beranjak dari situ saya mengundang rekan-rekan saya yeng memiliki indra waskita yang tajam menembus alam gaib, dengan bantuan dari mereka beberapa cerita terkuak meski tidak lengkap dan saat ini saya rangkai menjadi cerita Cerpen dan akan berlanjut ke cerita Novel. Inilah ceritanya BERBURU IKAN “Bangsa Penawungan”.

-Pelabuhan 1952,

Aroma kemenyan tercium menyengat di hidung, angin malam berhembus serasi dengan alunan kendang yang sedang ditabuh, sorak soria penanton menambah penari sintren semakin kesesetanan. Wa Gede selaku penabuh kendang sekaligus pimpinan dalang sintren di desa Pelabuhan tersenyum manakala melihat geyolan pantat penari semakin santer. Rupanya bukan hanya itu saja yang membuat Wa Gede tersenyum ada satu lagi yang membuat hatinya gembira, ialah karena banyak orang melempar kain tapi daberengi dengan saweran.

            Wa Gede bukan hanya sekedar dalang biasa ia juga seorang guru sepiritual di desa, banyak kabar yang mengatakan Wa Gede satu-satunya murid Pangeran Guru dari Palembang yang masih hidup dan menetap di tanah penawungan (bangsa siluman) ini Pelabuhan. Kesaktian dan kehebatan Wa Gede tersohor dimana-mana, entah berkat murid-muridnya yang selalu mengagung-agungkan atau berkat mendalangnya yang terampil.

            “Nok Ratiyem, engko! mandega dikit (Nok Ratiyem, tunggu! berhenti sebentar)” Teriak Castaka memanggil wanita di depannya.

            Yang dipanggil berhenti begitu pula dengan kedua teman disampingnya, Castaka sambil berlari mengejar Ratiyem.

            “ana apa Kang? (ada apa Kang?)” kata Ratiyem memandang lelaki berbaju hitam tersebut.

            “War, Sun! tinggalaken kita wong loro bae (War, Sun! tinggalkan kita berdua saja)” minta Castaka pada kedua wanita disamping.

            “iyang Kang Taka ya kosian pengene loroan bae (Yah Kang Taka inginnya berdua saja)” celetuk Warniti.

            “ana apa sih Kang?, kayane penting pisan (ada apa sih Kang?, kayanya penting banget)” kembali Tanya Ratiyem semakin penasaran.

            Castaka memberikan kode pada Warniti dan Sunti agar segera meninggalkan mereka berdua. Terlihat raut muka yang terpaksa Warniti mengajak Sunti pergi duluan menuju peagelaran sintren.

            “Nok Ratiyem bener beli, jare lagi winang wingi senok digoda ning boca Langgen”

            “iya Kang, mung ora diapa-apaaken” Kata Ratiyem pelan sambil menundukan kepala.

            “sukur ai ora diapa-apaaken mah, mung maning-maning baka arep nonton ning desa sejen wara-wara Kakang”

            “iya Kang” lagi-lagi Ratiyem menunduk.

            Cartaka terlihat gelisah mankala melihat wajar rembulannya merona “Nok, asline Kakng iki….” Suara Cartak berhenti entah ragu atau malu.

            “apa Kang?” Ratiyem menengadakan kepalanya menatap Cartaka.

            Aduh Cartaka semakin gelisah manakala wajah hitam manis Ratiyem terpancar akan sinar rembulan dimalam itu. Diantara ketegangan dan hasrat yang besar datang Antuk dan Sarkam dengan napasnya tersengal-sengal seperti habis dikejar setan.

            “Kirik, ganggung wong loroan bae sira kih” sewot Cartaka sambil menoyor kepala Antuk.

            “punten Kang ora maksud ganggu, mau kita karo Sarkam deleng boca Langgen karo boca Desa sing goda Ratiyem winang wingi” jelas Antuk.

            Wajah Cartaka memerah “Ning endi bocane Tuk, pengen tek hajar wani-wanian manjing sarang Buaya”

            “kang wis ora usah di dawa-dawa aken, kader kita ora apa-apa” kata Ratiyem meredam amarah Cartaka.

            “Nok, dudu masalah mengkonon. . . sing dadi masalah iku harga diri boca lanang Pelabuhan, masa wong wadon seayu senok di goda-goda, boca lanang Pelabuhan meneng bae” jelas Cartaka sedikit nyolot.

            “tapi Kang, kita water ana apa-apa bae”

            “Tuk anteren Ratiyem meng sintren, ning kana ana Warniti karo Sunti. . . sira Kam meluan kita ning endi bocane”

            “iya Kang” kata Antuk dan Sarkam berbarengan.

            Cartaka berjalan didepan menuju tempat yang ditunjukan Sarkam diman ia melihat lelaki desa Langgen yang menggoda Ratiyem sebelumnya. Tepat didepan penjual Tuak tiga pemuda desa Langgen dan dua pemuda Blok Desa tengah menenggak minuman beralkohol berasal dari sari tape tersebut. Raut muka yang memerah tangan mengepal Cartaka langsung menendang  kursi panjang dihadapnnya sambil berkata “Kirik, wania-waniane sira manjing sarang buaya” kata Cartaka lantang.

            Dua pemuda blok Desa langsung berdiri sambil mengacungkan celuritnya. “Tai, rupane setan baka iya pengen ngajak ribut mene maju” kata sala satu dari mereka.

            “sing asline kita laka urusan karo wong Desa, mung baka ira nangtang bakal tek jabane. . . aja maning mung celurit gawane tekang gawa pestol gah tek adepi nang” Jerit Cartaka.

            “Kirik, ngeremeh aken reang” kata salah satu dari mereka langsung maju dan mengayunkan celuritnya.

            Sejengkal hampir menebas leher Cartaka langsung ada yang menghalau lelaki tinggi tegap dengan baju hitam oblong berikat kepala kain batik.

            “Kang Darma” Kata Cartaka tertegun.

            Lelaki tadi yang mengayunkan celuritnya langsung terpental akibat haluan tenaga dalam dari Kang Darma.

            “lagi apa-apaan ira kih Taka, pengen gawe rebut karo desa sejen” Kang Darma marah.

            “wong Langgen dikit sing gawe masalah Kang ngegoda Ratiyem”

            “wis kudu maklume wong wadon digoda baka ana tanggapan, ira gah pada baka anu ngegoda boca wadon Langgen”

            “iya Kang punten” Cartaka menundukan kepala.

            “wis sirane mana pada bubar” usir Kang Darma pada kelima pemuda tersebut.

            Kang Darma melirik ke arah  Cartaka dan Sarkam “Wa Gede ana ning endi?”

            “masih ngedalang Kang. . . bokat pengen langsung mengumane bae ana Darwadi” kata Cartaka memberikan informasi.

            “yawis anteren kita mono” ajak Kang Darma langsung berjalan di depan.

            Kang Darma sebenarnya bukan aslih orang Pelabuhan tapi ia orang Jemeti murid tertua dari Wa Gede makanya banyak pemuda desa Pelabuhan yang menghormati dan menghargai Kang Darma, bukan karena ilmunya saja yang tinggi tapi karena etika moral perguruan yang muda harus menghargai yang lebih tua, bukan dari mana dia berasal tapi darii mana dia belajar dan masih satu guru.

***

            Sudah tiga hari tiga malam Kang Darma menginap di rumah Wa Gede berasama Darwadi, tiap harinya Kang Darama hanya menghabiskan waktu untuk tirakat sambil membaca kidung-kidung yang sering diajarkan Wa Gede. Malam rabu keliwon semua murid Wa Gede berkumpul didalam rumah gubugnya yang tidak begitu besar, selesai memanjatkan doa Wa Gede selalu memberikan cerita dan nasehat pada setiap muridnya.

            Terlihat Ratiyem sedari tadi melirik ke arah Darwadi yang selalu duduk disamping Wa Gede, hal tersebut disadari oleh Cartaka jika Ratiyem menaruh pandangan suka pada Darwadi. Jantung Cartaka merasa sesak manakala melirik ke arah Ratiyem yang tengah tersenyum, tangan Cartaka terus mengepal menahan cemburu akan tatapan Ratiyem. Cartaka sadar dia bukan siapa-siapa bagi Ratiyem, wajar saja jika Ratiyem menaruh pandangan suka pada Darwadi.

            “wis kudune baka bengi rebo keliwon iki boca nomnoman Pelabuhan adu kebisan” kata Wa Gede lalu menarik napasnya “wis pada siap?” Tanya Wa Gede kesemua pemuda yang berkumpul.

            “wis Wa” pemuda desa menjawab serentak.

            “baka siap mana meluan Darma meng sawah, kari boca wadon wis pada balik bae ko maning latian sintrene” himbau Wa Gede pelan namun terdengar tegas.

            “iya Wa” pemudi menjawab berbarengan langsung keluar dari rumah Wa Gede dengan membawa obrolan-obrolan masing-masing, biasalah wanita kalian tahu kan.

            Angin malam berhembus santer mematikan obor-obor yang terpasang di depan rumah, langkah kaki Wa Gade terhenti sejenak melihat ke arah rembulan sambil bergumam “wis waktune” katanya singkat kembali melanjutkan perjalanannya menuju sawah.

            Di tengah-tengah sawah semua pemuda sudah berkumpul membentuk lingkaran, obar yang mati kembali dinyalakan mankala Wa Gede datang dan ikut berkerumun diantara mereka.

            “Ashadu anlaa ilaha illaoh, wa ashadu anna muhammada rosuulullaoh,

Allaohumma sholli ala syidinaa Muhammad wa alaa ali saidina Muhammad,

Ya Gusti Alloh pengeran kula jaluk diparingi selamet lan kewarasan maring murid-muride kula kabe, ya Nabi Sis putrane nambi Adam, due keturunane Nurcahya, Nurasa due anak Sangyang Wening, Sangyang Tunggal keturunane.

Ya Alloh Ya Rosul, kabulaken penjaluk kula kang ana ning jero hati. . . . metua kabeh bangsane silum siluman maring sepinggire lan adepane aku” Kidung yang dibaca oleh Wa Gede.

            Selesai pembacaan kidung oleh Wa Gede suasana berubah awah panas yang dihasilkan oleh para siluman terasa, mata yang menebarkan amarah dan kebencian terlihat jelas. Getaran di nadi setiap pemuda mengalir seperti menyatu pada darah-darah anak manusia tersebut, mereka yang menyimpan rasa takut akan merasakan kengerian yang baru mereka rasakan seumur hidup. Angin semakin meraung-raung menjerit-jerit sekan-akan berteriak kesakitan, obor yang sedari tadi menyala kini padam. Ia jantung mereka berdebar kencang menunggu siapa dulu yang akan di tunjuk untuk beradu di tengah lingkaran kengerian.

            “Darwadi maju mengarep, todokena sing wis dipelajari sira” kata Wa Gede menunjuk Darwadi “Cartaka maju lawan Darwadi” mata Wa Gede tajam manakala menyebut Cartaka.

            Cartaka tersenyum sinis melirik ke arah Darwadi seperti sudah menunggu kesempatan tersebut, memberi pelajaran Darwadi karena sudah bermain-main perasan dengan Ratiyem. Dengan beringas Cartaka maju ketengah lingkaran tanah sawa yang retak-retak sudah bukan halangan apa-apa baginya, berbeda dengan Darwadi berjalan berhati-hati agar kakinya tidak masuk kedalam retakan tanah sawah.

            “Kanjeng Rosul kula nywun karomane ilmu setrum nyatu kelawan awak isun. . .” Castaka mulai membaca ajian yang sudah ia pelajari.

            Angin datang lebih besar dari sebelumnya menerbangkan anggas dami yang berada ditengah arena. Mata Castaka memerah dengan geraman yang mengerikan keluar dari selah-selah giginya.

            “Ya gusti kang maha kuasa, kula nywun kelawan hati bukti sekecap dituruti. . . Sanghyang Tunggal manjinga awaku” Rapalan yang dibaca Darwadi menimbulkan ledakan diantara selah-selah tanah.

            Mata mereka saling bardu, kaki mereka sudah mulai memasang kuda-kuda. Seni beladiru mulai terlihat dari gerakan tangan dan kaki mereka, Catka memperlihatkan gerkan harimau sedangkan Darwadi memperlihatkan gerkan menjangan. Tepat lima langkah mereka langsung saling beradu, Castaka yang sedari tadi sudah tidak sabar langsung menendang dan lima jengkal lagi mengenai wajah Darwadi. Untung gerakan menjangan lincah menghidari gerakan-gerkan berbahaya.

            “ahh….” Suara Castaka tertekan mankala perutnya terkena pukulan.

            Ia mata Castaka memerah semakin germa manakala Darwadi berhasil menembus pertahanannya. Mulut Cartaka bergumam seperti tengan membaca ajian “beelaarrr…” dentuman kencang terdengar dibarengi dengan tawa Castaka.

            “sapa sing paling hebat Darwadi, sekiyen ira bisa ndeleng” kata Castaka langsung disusul dengan tawanya.

            Tidak banyak basa-basi darwadi langsung mengarahkan tendanganya ke wajah Castaka, namun dengan mudah ditangkisnya dan dijungkirkan Darwadi sampai tersungkur diantara tanah retak, ia lagi-lagi Castaka tertawa terbahak-bahak. Suasana semakin ngeri manakala mahluk yang masuk kedalam tubuh Castaka sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

            “bangsane buaya kang ana ning sepinggire aku, manjingan awak ku nyatu dadi siji karo balung lan kulit ku” gumam Darwadi memnita bantuan padah siluman buaya yang berada diantara mereka yang sudah di panggil Wa Gede.

            Darwadi tersenyum sinis matanya memerah gerkan tangannya berubah bukan menjangan, siluman buaya sudah benar-benar masuk kedalam tubuhnya. Aroma kemenyan yang tadinya tidak ada tiba-tiba muncul membuat mereka yang merasakan merinding. Malam rabu keliwon benar-benar menyeramkan bagi pemuda desa Pelabuhan mereka harus berani berkelahi dan menyatukan dirinya dengan bangsa siluman, meski nyawa mereka menjadi taruhannya.

            Darwadi langsung menyerang Castaka yang sedari tadi masih tertawa, pukulan tiap pukulan tersara sia-sia karena Castaka sudah bukan lagi manusa, namun bangsa Penawungan siluman wanita penggoda dan memiliki energi yang kuat. Gelagat Castaka sudah tidak wajar membuat Kang Darma merasa kahwatir dan mengalihkan pandangannya pada Wa Gede. Lelaki tua dengan kaos hitam dan celana hitam kas dalang hanya tersenyum melihat kesaktian murid-muridnya.

            “wis, mandega kabeh. . .” kata Wa Gede sedikit menjerit.

            Perkataan Wa Gede seperti tita raja, Castaka yang masih tersulut amarah langsung berhenti begitu pula Darwadi langsung duduk bersimpu karena sudah tidak kuat lagi menahan luka-lukanya. Beberapa rekan disampingnya langsung membantu Darwadi berdiri dan dibawa kesamping lingkaran. Sedangkan Castaka dengan angkuh berjalan ke samping merasa sebagai pemenang dalam pertandingan kali ini.

            “sekiyen rongokna kabeh. . . waktu nggati iwak wis parek, wulan wis mai tanda-tandane, wis dadi tradisi kita kabeh nggati iwak kudu dilakukaken nang nguripi anak putu besuke” Jelas Wa Gede sambil menghela napas “ngko ana boca wolu sing bakal meluan karo kita nggati iwak, yaiku Castaka, Darwadi, Antuk, Sarkam, Cardi, Kaji, Sarjim, karo Warlea. . . sing sejen-sejene meneng desa tonggonana umane kita karo Darma” lanjut kata Wa Gede dan mereka murid-murid Wa Gede hanya mengamini saja.

***

            Kamis, semburat mentari diujung timur mancrot menyinari tanah Pelabuhan, Kalen Sema tengah surut airnya hanya setinggi lutut. Mereka bersembilan yang di pimpin Wa Gede masih berjalan menyebrangi sungai tersebut. Sungai yang besar dengan berbagai hewan air membuat mereka yang ciut nyalinya akan merasakan getaran dalim dirinya.

            “untung bae ora lagi manisan nyebrang Kalen Sema” kata Antuk sambil menghelus dada.

            “iya tuk bener, lamon manisan mah Buayane pating keliwer” Warlea membenarkan.

            Castaka menatap tajam ke arah Antuk dan Warlea “baka ngomong dijaga, aja padu ceplok bae” sentak Castaka sambil meludah ke air.

            “iya boca loro kuwen kih, ora weru wong lagi gemeter” tambah Sarkam dengan raut muka memucat.

            “iya punten kang” kata Antuk lalu menundukan kepala.

            Kalen Sema dikenal dengan sungai yang banyak buaya putih sering memakan korban ketika air aisn dan air tawar menyatu dari perbatasan laut dan hujan turun setelah kemarau panjang. Kalen Sema juga dijadikan ikon desa Pelabuhan karena memilki sejarah yang panjang. Kini perjalanan mereka menyebrangi Kalen Sema masih jauh karena pada masa tersebut lebar Kalen Sema dua kali lipat lebar sungai Cimanuk saat ini, bahkan ada yang mengatakan kalau Kalen Sema iyalah Cimanuk tiga setelah sungai Pangkalan saat itu, namun bukti sejarah kurang kuat akan hal tersebut.

            “Wa Gede. . .” kata Darwadi manakala melihat pusaran disamping mereka.

            Sarkam langsung berjalan cepat menujuh samping Wa Gede karena takut akan pusaran tersebut, di pikiran Sarkam ada buaya yang sedang mengintai. “apa kuh Wa?” kata Sarkam ketika berada di samping Wa Gede.

            “Pada menenga dikit aja ana sing gerak” himbau Wa Gede.

            Sarkam yang sudah sangat ketakutan mencengkram pundak Wa Gede erat, melihat gelgat Sarkam lelaki tua tersebut memegang tangan Sarkam berusaha menenangkan. Pusaran yang awalnya kecil kini semakin besar seperti ada hewan buas dibalik pusaran tersebut, jantung kesembilan orang tersebut saling berpacu dengan debaran yang kuat, Wa Gede membaca ajian pelindung atau sering dikenal pembuat pagar gaib.

            “Pelak. . .” suara air yang seperti terkena sabatan ekor besar.

            Kaki Antuk bergetar manakala ia lihat bentuk ekor buaya menyabet ke air, bukan hanya Antuk yang melihat Warlea juga melihatnya, ia mereka berdua saling pandang seperti memertanyakan akan ucapan sebelumnya. Selesai merapalkan mantra Wa Gede menganggukan kepalanya memberi aba-aba agar mereka segera berjalan namun pelan-pelan. Manakala kaki mereka melangkah pusaran tesebut mengikuti disampingnya, masih mengintai dan mencari kelenghan mereka.

            Sarjim yang berada dipaling belakang sedikit mempercepat jalannya berusaha lebih dekat dengan Warlea, entah ada apa dengan Sarjim namun raut mukanya memucat seperti mengalami peristiwa yang menakutkan. Warlea menatap Sarjim tajam ketika lelaki berperawakan agak gemuk tersebut berada disampingnya, Sarjim hanya mengedipkan mata memberi kode kalau dia akan ceritakan nanti. Melihat hal tersebut Warlea semakin bergemetar apalagi pusaran tersebut masih belum hilang.

            Keheningan cukup lama terjadi sampai pada akirnya daratan terlihat lima langkah dari hadapan mereka. Wa Gade berhenti dan menyuruh semua muridnya berjalan di depan, ketika Darwadi mau meberjalan terlebih dahulu Castaka menyerobot duluan, dua langkah lagi sampai daratan tiba-tiba “Aaaahhhhh….” Jerit Castaka dengan amblas tubuhnya kedalam.

            Sontak hal tesebut membuat semuanya kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya, melihat Castaka yang hanya terlihat kepalnya saja pusaran tersebut berjalan lebih cepat menujuh arah Castaka. Darwadi yang berada dibelakangnya berusaha menarik Castaka sebelum pusaran tersebut sampai pada Castaka, dibantu Sarkam menarik tangannya Castaka bisa naik atas dimana sebelumnya berada dan pusaran tersebut kembali kesamping menujuh belakang, sontak hal tersebut kembali membuat Sarjim ketakutan dan lagi-lagi Wa Gede bisa menenangkan murid-muridnya meski hanya dengan sentuhan tangan.

            Kini Wa Gede berjalan kedepan dan menyuruh murid-muridnya diam, tepat dimana Castaka ambalis kini Wa Gede berdiri dengan keadaan normal, cukup aneh namun itulah kenyataannya. Wa Gede menyuruh Darwadi berjalan duluan hingga sampai kedarat dilanjut Castaka dan seterusnya, ketika mereka semua sampai dibantaran atau daratan Kalen Sema pusaran tersebut lamat-lamat menghilang. Kinih mereka menarik napas legah karena bebas dari marah bahaya yang sedari tadi mengicarnya.

            Perjalanan kembali berlanjut mengikuti arah angin yang berhembus pagi itu, Warlea masih memandang wajah Sarjim mungkin penasaran apa yang dialami lelaki berperawakan agak gemuk ketika menyebraingi Kalen Sema.

            “ana apa sih sing mau ndelengaken kita bae?” Tanya Sarjim sambil berhati-hati melangkah karena takut terpelosok diantara bongkahan tanah sawah.

            “ira mau ning Kalen Sema nang apa?” kata Warlea langsung pada intinya.

            Mendengar pertanyaan Warlea membuat Antuk dan Sarkam tertarik ikun mendengarkan bahkan sampai mendekat ke arah mereka berdua.

            Sarjim menarik napas dalam-dalam “pas ning Kalen Sema, kita nedeleng mengguri ana bokong bayi” kata Sarjim sedikit ditahan.

            “wadah cimplung kunuh Jim” timpal Antuk keras membuat semua yang berjalan di depan menengok ke arah mereka berempat “punten wa keceplosan” lanjut kata Antuk.

            “sira maning sira Tuk” kata Castaka sambil menudingkan telunjuknya.

            “iya punten kang”

            “punten-punten bae sing awit mau” ketus Castaka sedikit geram.

            Perjalanan mereka masih terus berlanjut cukup jauh meninggalkan Kalen Sema, Antuk, Srjim, Sarkam, dan Warlea masih mengobrolkan soal cimplung yang suka memakan ubun-ubun manusia ketika manusia tersebut lengah dan tertipu daya. Wa Gede memberhentikan perjalannya ketika sampai disalah-satu gubug dengan diselubungi kain puti dan terdapat tujuh pohon dengan kain putih disetiap batngnya.

            “Karang Kendal” gumam Wa Gede “sekiyen etokaken bolede” kata Wa Gede manyuruh Kaji.

            Di bantuh dengan Cardi, Kaji menyiapkan kain putih untuk tempat tujuh boled yang dibutuhkan Wa Gede. “ikih Wa” kata Kaji menyerahkan tujuh singkong yang diletakan diatas kain putih.

            “golongan sira pada istirahat dikit bae ning kene, endah kita dewekan sing marek mana” kata Wa Gede langsung berjalan menujuh Karang Kendal sendirian, balum juga Wa Gede sampai pada gubug tersebut suara Anjing bersahut-sahutan membuat kaget kedelapan murid Wa Gede.

            “suara Kirik Keletake santer-santer pisan gawe merinding” kata Warlea.

            “iya War, lomon kita sing kon mono ora wani, water dicokot” Antuk membenarkan kata-kata Warlea.

            “barian gah sapa sing arep ngonkon sira mono Tuk” kata Sarjim dilanjut dengan tawanya.

            “wis pada mangan dikit, lungane masih adoh” kata Darwadi, sambil membuka bungkusan.

            Kini matahari tepat bearad diatas kepala, panasnya begitu menyengat apalagi berada di tenga-tengah pesawahan yang tidak ada pohon sama sekali kecuali di Karang Kendal yang jarknya dua puluh langkah di depan. Selesai makan Castaka terus menghadap ke arah Karang Kendal, entah apa yang dilihatnya sampai-sampai bibir Castaka tersenyum-senyum. Antuk, Sarjim, Warlea menyadari akan tingkah Castaka yang aneh dan langsung melihat ke arah Karang Kendal.

            “Ih wong wadon ayu temen kunuh kelambine kaya pengantenan putih kabeh” kata Antuk sedikit ditekan sehingga yang mendengar hanya Warlea dan Sarjim.

            “endih si Tuk laka sapa-sapa mung ana suara kirik bae” protes Warlea.

            “iya Tuk ngaco bae sir amah, masa ia ning tengah-tengah sawah kaya kenen ana wong babahan” kembali timpal Sarjim.

            “beneran Jim, War. Iku lagi ngawe-ngawe kang Taka” kembali kata Antuk ngotot.

            “awas gah, ning Karang Kendal kih akeh  Bangsane Penawungan”

            “sing bener Jim aja weden-wedeni bae, merinding kih” kata Antuk dengan menggeser duduknya mepet ke Warlea.

            “beneran Tuk, jarema mah wiwitan putu kuh jeneng, wong sing mati pas lagi gati iwak kaya kenen jare mah di kubure ning kono”

            “Jim sira kih baka ngomong aja gawe kita gemeter”

            “ah ai kit amah ngmong kih apa anane Tuk”

            Antuk langsung menundukan kepala tidak berani menatap kea rah Karang Kendal, yang sekarang suara anjing liarnya tidak terdengar lagi dan Wa Gede belum juga kembali. Sedangkan Cartaka masih memndang ke arah Karang Kendal dengan bibir tersenyum, Darwadi yang menyadari hal tersebut langsung membuka indraw waskitanya dan benar kata Antuk jika ada wanita yang melambaikan tangan ke arah Castaka dengan bergegas Darwadi menyadarkan Castaka yang sudah mulai tergoda Bangsa Penawungan tersebut.

            “Cartaka sadar elinga” kata Darwadi membangunkan Castaka dari perdaya Bangsa Penawungan penunggu Karang Kendal.

            Castaka langsung tertegum menyadari hal yang dia lakukan tadi begitu berbahaya jika sampai berlanjut karena bisa saja ia terbawa ke alam Bangsa Penawungan. Memberikan minum dan air untuk memcuci muka Castaka yang tengah diputari rekan-rekannya sambil membuat lingkaran gaib menjaga Castaka yang tengah di incar Bangsa Penawungan. Belum lama dari itu Wa Gede datang kembali sambil membawa tiga anjing yang terikat tali saling menggonggong, kengerian mulai muncul manakala Kirek Keletak tersebut berada dihadapan mereka berdelapan.

            “mung bisa nggawa telu Kirik, sing sejen-sejene angel ora pada nurut, tatapi ora apa-apa gona telu kirik kien nemukaken sarange iwak-iwak ning jero lemah” jelas Wa Gedea mankala sampai di hadapan mereka.

            Singkat cerita malam tiba tepat pada malam jum’at, mengikuti petunjuk ketiga anjing yang dibawa tersebut mereka melawan arus angina sawah yang tenga kencang-kencangnya. Cukup lama sampai pada akhirnya ketiga anjing berhenti disalah-satu tempat dengan gonggongan keras, mereka bersembilan berlari menuju arah anjing-anjing tersebut. Dari dalam tanah terdengar suara langkah kaki seperti pasukan berkuda, dengan cekatan Wa Gede menarik besi di pinggulnya begitu pula yang lain.

            Tanah berbarang-barang di galai sampai kedalam kurang lebih setengah meter dan ketika Wa Gedememberi aba-aba agar mereka semua agak menjauh dari tempat tersebut “Blaarrr….” Suara dentuman keras terdengar dan muncul dua ika lele sebesar kendang di ikuti beberapa ikan lele yang tidak terlalu beras dan tidak terlalu kecil pula. Wa Gede menahan murid-muridnya jangan mengambil ikan-ikan tersebut dulu menunggu dua ikan Lundu yang sebesar kendang keluar dulu dan baru boleh mengambil beberapa ikan Lundu kecil dibelakngnya.

            Entah apa yang ada dipikiran Castaka ia tidak menghiraukan himbauan Wa Gede mengambil ikan-ikan Lele kecil dan dimasukan ke dalam kembu tempat ikan, ketika Kaji mau ikutan di tahan Wa Gede agar diam terlebih dahulu. Tidak butu waktu lama dua ikan Lundu sebesar kendang keluar, melihat Castaka mengambil ikan-ikan Lele kedua ikan Lundu tersebut menyerang Castaka yang di ikuti ikan-ikan Lele yang masih bertahan. Kinih Castaka sudah tidak kelihatan tertutup ikan-ikan Lele dan dua Ikan Lundu sebesar kendang. Kedelapan orang tertegum melihat pemandangan mengerikan tersebut, namun Wa Gede menyuruh murid-muridnya untuk menghiraukan Castaka dan mengambil beberapa Ikan Lundu yang paling kecil dan berada di paling belakang untuk dimasukan kedalam kembu tempat ikan sebanyak-banyaknya.

            Kurang lebih sepuluh menit ikan-ikan tadi terbang menujuh rembulan yang tehang terang-teragnya. Setelah semua ikan terbang terlihat tubuh Castka penuh denga bekas patilan ikan Lele ke ungu-unguan. Hari itu juga Castaka meninggal dan sebelum pulang tubuh Castaka dimakamkan di Karang Kendal, rupanya sejak sampai Karang Kendal Castaka sudah di incar dan disukai oleh Bangsa Penawunga.

            Ikan-ikan lundu yang dideapatkan sebagin dilepas di Kalen Sema dan sebagian lagi dijadikan lauk untuk waraga desa Pelabuhan yang jumlah masanya tidak begitu banyak. Kabar kematian Castaka membuat keluarga bersedi namun inilah jalan takdir sang maha kuasa. –

- SELESAI -

Komentar